Dunia pesantren
adalah dunia yang unik. Disebut unik karena dari tempat belajar yang sederhana jika ditinjau dari
perspektif pendidikan modern, ternyata mampu menghasilkan lulusan
dengan kualitas handal. Jika Anda belum pernah belajar di pesantren dan ingin
mengetahui kondisi pesantren, mungkin bayangan Anda akan berbeda dengan
kenyataannya. Sebab, sebagian besar pesantren penuh dengan kesederhanaan. Kamar
para santri, sarana belajar, hingga menu makan sehari-hari jauh dari mewah.
Tetapi dari lembaga yang sering dinilai secara kurang apresiatif ini, ternyata
lahir banyak intelektual dan tokoh-tokoh terkemuka di negeri ini.
Memang
keberhasilan mereka yang menempuh kehidupan pasca pesantren tidak semata-mata
dipengaruhi oleh dunia pesantren. Ada faktor dinamika sosial, jaringan,
kapasitas intelektual, dan berbagai faktor lainnya. Namun demikian, sedikit
banyak warna pesantren tetap menjadi bagian yang tidak terpisah dari
kehidupannya.
Salah seorang
tokoh nasional yang hidupnya dipengaruhi oleh dunia pesantren adalah Prof. Dr.
Komaruddin Hidayat. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Intelektual Muslim
terkemuka dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dikenal luas sebagai
pemikir garda depan Indonesia. Kemampuannya bertutur diimbangi dengan kemampuan
menulis yang mumpuni. Dalam setiap tulisannya, Mas Komar—sapaan
akrabnya—senantiasa mampu memberikan perspektif baru dan mencerahkan para
pembacanya. Caranya mengulas sebuah persoalan begitu mempesona, enak dibaca,
dan mengalir dengan lembut. Kemampuan menulisnya ini dibuktikan dari berbagai
bukunya yang laris manis di pasaran.
Jika kita
meminjam analisa linguistik, maka akan kita temukan adanya korelasi yang cukup
erat antara tulisan yang dihasilkan dengan pengalaman hidup dan khazanah
pengetahuan yang dimiliki penulisnya. Sebuah tulisan pada dasarnya adalah
bagian dari akumulasi pengalaman dan pengetahuan penulisnya dalam berinteraksi
dengan beraneka ragam faktor. Semua faktor tersebut kemudian tercurah dalam
tulisan.
Jika kita telisik riwayat kehidupan beliau,
ternyata dengan jujur beliau mengakui bahwa kehidupannya sekarang ini
adalah akumulasi dari pengalaman hidupnya semasa di pesantren. Riwayat
pendidikan Mas Komar muda dihabiskan di Pesantren Pabelan Magelang. Pesantren
ini, seperti diakuinya, telah menorehkan banyak hal berharga dan begitu
berpengaruh secara kuat dalam perjalanan hidupnya. Di pesantren inilah,
benih-benih intelektualisme tertanam dan tersemai. Sebagaimana dituturkannya
dalam pengantar buku Mulyadhi Kartanegara (2005), Mas Komar secara singkat
bercerita tentang mengapa dan bagaimana perjalanan hidupnya, serta faktor apa
saja yang mempengaruhinya.
Salah satu faktor
yang mempengaruhi perjalanan hidupnya adalah mahfuzhat, yaitu
nasihat-nasihat bijak yang tersusun dalam bahasa Arab dan Inggris untuk dihapal
oleh para santri. Hapalan mahfuzhat ini lalu dijadikan materi dalam
latihan muhadharah (pidato), tugas mengarang, dan
berdiskusi. Menurut Mas Komar, apa yang dipelajarinya tentang kearifan klasik
sewaktu di pesantren sangat dirasakan bekas dan manfaatnya ketika menjadi
mahasiswa. Pertama, keberanian berbicara di depan umum dan ketika
menyusun karya tulis karena otaknya masih menyimpan memori sekian ungkapan
kalimat bijak yang dulu pernah dihapalnya dan digunakan untuk pidato serta
menyusun karangan.
Manfaat kedua yang
dirasakannya adalah pengaruhnya untuk memotivasi diri serta menjadi panduan
moral dalam menyikapi hiruk pikuk kehidupan. Misalnya mahfuzhat yang
mengatakan: Ketahuilah, harimau tak akan memperoleh mangsa kalau tidak
keluar dari sarangnya, air akan menjadi sarang penyakit kalau tidak mengalir,
matahari akan membosankan kalau tidak datang dan pergi mengikuti garis edarnya,
dan pemuda tidak akan berkembang jika tidak berani merantau jauh dari
keluarganya.
Etos gerak yang
didapat Mas Komar dari membaca dan menghapal kearifan klasik sewaktu belajar di
pesantren diakuinya sungguh sangat besar pengaruhnya. Mahfuzhat di atas
menjadi salah satu pemantik dalam diri Mas Komar untuk berani melakukan
perubahan. Apa yang tertulis dalam mahfuzhat tersebut telah memunculkan
tekad yang tak terbendung lagi waktu itu untuk merantau ke Jakarta guna mengadu
nasib, bagaikan seekor harimau kecil keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa
ke ibu kota. Tanpa izin dan minta bekal dari orang tua, penulis buku-buku
keislaman ini memasuki Jakata untuk pertama kali, yaitu pada tahun 1974, dengan
semangat mengadu nasib di hutan rimba ibu kota. Mas Komar menuturkan, “Ketika
bus yang saya tumpangi masuk Jakarta, saya berkata dalam hati: Jakarta,
izinkan aku mencoba membangun dan memasuki kehidupan baru di kotamu. Kamu
adalah ibu kota negeriku, kamu punya segalanya. Aku bukan ayam sehingga tidak
pantas mati di lubung padi. Aku bukan pula semut sehingga tidak mau mati di
tumpukan gula. Berilah aku kesempatan barang setahun untuk menguji kemampuan
diri, hidup di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada keluarga. Hidup adalah
gerak, dan siapa pun yang berhenti akan terlindas oleh roda kehidupan itu
sendiri”.
“Singkat cerita,
akhirnya saya hanyut dan bergabung mengikuti ritme serta dinamika ibu kota yang
demikian dinamis, penuh peluang dan tantangan sehingga sejak masuk Jakarta pada
tahun 1974 sampai 2005 (tulisan ini dbuat Mas Koma tahun 2005—pen.) saya tetap
menjadi penduduk Ciputat, sekalipun sedikitnya 30 negara pernah saya kunjungi.
Saya selalu ingat nasihat klasik, kalau kamu mau pergi rekreasi janganlah hanya
membayangkan enaknya saja, tetapi bayangkan dan nikmati kalau di tengah jalan
ada jalan licin, hujan lebat, serta terik matahari karena semua itu satu paket
perjalanan dalam kehidupan”.
“Demikianlah,
maka acara jalan-jalan ke luar negeri dan menapaki tangga-tangga pendidikan
semua itu saya hayati sebagai sebuah gerak alami belaka, yang tidak perlu dikeluhkesahkan
dan tidak pula dibanggakan. Hidup adalah sebuah rekreasi yang perlu dinikmati,
disyukuri, dan diisi dengan tindakan produktif. Sekali lagi, keasyikan untuk
menghayati dorongan dan makna sebuah pengembaraan hidup saya dapatkan ketika
menulis, menghapal, dan menulis refleksi mahfuzhat di atas yang kemudian
tertanam dalam hati sampai sekarang”.
Setiap orang
memiliki pengalaman hidup yang khas. Tidak ada orang yang memiliki pengalaman
hidup yang sama persis, meski orang kembar sekali pun. Sebab pengalaman tidak
hanya berkaitan dengan persentuhan seseorang dengan obyek-obyek fisik semata,
tetapi juga berkaitan dengan bagaimana obyek fisik tersebut dilihat, dipandang,
dipahami, dan dikonstruksi dalam pemikiran dan kesadarannya. Pengalaman melihat
obyek fisik yang sama antara dua orang misalnya, akan melahirkan hasil yang
berbeda.
Hal ini dapat
kita gunakan untuk memahami dan memaknai pengalaman hidup Mas Komar di atas.
Dalam tradisi pesantren, mahfuzhat adalah bagian yang sangat erat dalam
keseharian para santri. Ada begitu banyak mahfuzhat yang diajarkan oleh
para guru di pesantren. Tetapi berapa di antara para santri yang kemudian
terpengaruh, tergerak, menghayati, dan kemudian terdorong untuk mengikuti
ajakan positif dari khazanah mahfuzhat yang mereka peroleh? Mungkin
tidak banyak. Sebab jika saja sebagian besar kalangan santri menjadikan mahfuzhat
sebagai energi gerak, sebagaimana yang dilakukan oleh Mas Komar, tentu akan
terjadi perubahan yang sedemikian dahsyat dalam kehidupan secara luas karena kemampuan
para santri untuk mentransformasikannya dalam energi gerak mereka.
Sebagaimana yang
umum kita amati, banyak orang yang tidak beranjak dari realitas hidupnya
sehari-hari. Kemajuan hidup akan terjadi ketika seseorang memiliki kemauan yang
kuat untuk memperbaiki dirinya secara terus menerus. Ada banyak faktor yang
menjadi pendoongnya. Salah satunya adalah mahfuzhat.
Ya, teks tertulis
memang memiliki posisi yang berbeda antara satu orang dengan orang yang
lainnya. Walaupun sama-sama belajar di Pesantren Pabelan, sama-sama belajar dan
menghafal mahfuzhat, tetapi yang sukses seperti Mas Komar mungkin hanya
sebagian kecilnya saja. Sementara sebagian besar yang lainnya tidak tergerak
untuk menempuh jalan kehidupan yang membawa perubahan secara signifikan dalam
kehidupannya.
Mengapa Mas Komar
bisa sukses? Tentu ada banyak faktor. Tetapi faktor mahfuzhat tampaknya
menjadi sebuah bukti yang tidak terelakkan. Teks-teks berbahasa Arab yang
berisi nasehat, motivasi, dan dorongan kebajikan tersebut nampaknya begitu
tertanam kuat dalam kalbunya. Dan sebagaimana yang terjadi pada sebagian besar
mereka yang mampu berubah hidupnya karena pengaruh kata-kata, segala teks yang
dibaca, dan juga dihafalnya, menghunjam secara mendalam. Tidak hanya menjadi
bagian dari pelajaran yang kemudian dilupakan, tetapi justru menjadi bagian
tidak terpisah. Ia senantiasa hadir, menjadi penuntun hidup, dan terus
memberinya semangat yang kuat untuk meniti hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar