29 Maret 2013

KOMARUDDIN HIDAYAT DAN MAHFUZHAT

Dunia pesantren adalah dunia yang unik. Disebut unik karena dari tempat belajar yang sederhana jika ditinjau dari perspektif pendidikan modern, ternyata mampu menghasilkan lulusan dengan kualitas handal. Jika Anda belum pernah belajar di pesantren dan ingin mengetahui kondisi pesantren, mungkin bayangan Anda akan berbeda dengan kenyataannya. Sebab, sebagian besar pesantren penuh dengan kesederhanaan. Kamar para santri, sarana belajar, hingga menu makan sehari-hari jauh dari mewah. Tetapi dari lembaga yang sering dinilai secara kurang apresiatif ini, ternyata lahir banyak intelektual dan tokoh-tokoh terkemuka di negeri ini.
Memang keberhasilan mereka yang menempuh kehidupan pasca pesantren tidak semata-mata dipengaruhi oleh dunia pesantren. Ada faktor dinamika sosial, jaringan, kapasitas intelektual, dan berbagai faktor lainnya. Namun demikian, sedikit banyak warna pesantren tetap menjadi bagian yang tidak terpisah dari kehidupannya.
Salah seorang tokoh nasional yang hidupnya dipengaruhi oleh dunia pesantren adalah Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Intelektual Muslim terkemuka dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dikenal luas sebagai pemikir garda depan Indonesia. Kemampuannya bertutur diimbangi dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Dalam setiap tulisannya, Mas Komar—sapaan akrabnya—senantiasa mampu memberikan perspektif baru dan mencerahkan para pembacanya. Caranya mengulas sebuah persoalan begitu mempesona, enak dibaca, dan mengalir dengan lembut. Kemampuan menulisnya ini dibuktikan dari berbagai bukunya yang laris manis di pasaran.
Jika kita meminjam analisa linguistik, maka akan kita temukan adanya korelasi yang cukup erat antara tulisan yang dihasilkan dengan pengalaman hidup dan khazanah pengetahuan yang dimiliki penulisnya. Sebuah tulisan pada dasarnya adalah bagian dari akumulasi pengalaman dan pengetahuan penulisnya dalam berinteraksi dengan beraneka ragam faktor. Semua faktor tersebut kemudian tercurah dalam tulisan.
 Jika kita telisik riwayat kehidupan beliau, ternyata dengan jujur beliau mengakui bahwa kehidupannya sekarang ini adalah akumulasi dari pengalaman hidupnya semasa di pesantren. Riwayat pendidikan Mas Komar muda dihabiskan di Pesantren Pabelan Magelang. Pesantren ini, seperti diakuinya, telah menorehkan banyak hal berharga dan begitu berpengaruh secara kuat dalam perjalanan hidupnya. Di pesantren inilah, benih-benih intelektualisme tertanam dan tersemai. Sebagaimana dituturkannya dalam pengantar buku Mulyadhi Kartanegara (2005), Mas Komar secara singkat bercerita tentang mengapa dan bagaimana perjalanan hidupnya, serta faktor apa saja yang mempengaruhinya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi perjalanan hidupnya adalah mahfuzhat, yaitu nasihat-nasihat bijak yang tersusun dalam bahasa Arab dan Inggris untuk dihapal oleh para santri. Hapalan mahfuzhat ini lalu dijadikan materi dalam latihan muhadharah (pidato), tugas mengarang, dan berdiskusi. Menurut Mas Komar, apa yang dipelajarinya tentang kearifan klasik sewaktu di pesantren sangat dirasakan bekas dan manfaatnya ketika menjadi mahasiswa. Pertama, keberanian berbicara di depan umum dan ketika menyusun karya tulis karena otaknya masih menyimpan memori sekian ungkapan kalimat bijak yang dulu pernah dihapalnya dan digunakan untuk pidato serta menyusun karangan.
Manfaat kedua yang dirasakannya adalah pengaruhnya untuk memotivasi diri serta menjadi panduan moral dalam menyikapi hiruk pikuk kehidupan. Misalnya mahfuzhat yang mengatakan: Ketahuilah, harimau tak akan memperoleh mangsa kalau tidak keluar dari sarangnya, air akan menjadi sarang penyakit kalau tidak mengalir, matahari akan membosankan kalau tidak datang dan pergi mengikuti garis edarnya, dan pemuda tidak akan berkembang jika tidak berani merantau jauh dari keluarganya.
Etos gerak yang didapat Mas Komar dari membaca dan menghapal kearifan klasik sewaktu belajar di pesantren diakuinya sungguh sangat besar pengaruhnya. Mahfuzhat di atas menjadi salah satu pemantik dalam diri Mas Komar untuk berani melakukan perubahan. Apa yang tertulis dalam mahfuzhat tersebut telah memunculkan tekad yang tak terbendung lagi waktu itu untuk merantau ke Jakarta guna mengadu nasib, bagaikan seekor harimau kecil keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa ke ibu kota. Tanpa izin dan minta bekal dari orang tua, penulis buku-buku keislaman ini memasuki Jakata untuk pertama kali, yaitu pada tahun 1974, dengan semangat mengadu nasib di hutan rimba ibu kota. Mas Komar menuturkan, “Ketika bus yang saya tumpangi masuk Jakarta, saya berkata dalam hati: Jakarta, izinkan aku mencoba membangun dan memasuki kehidupan baru di kotamu. Kamu adalah ibu kota negeriku, kamu punya segalanya. Aku bukan ayam sehingga tidak pantas mati di lubung padi. Aku bukan pula semut sehingga tidak mau mati di tumpukan gula. Berilah aku kesempatan barang setahun untuk menguji kemampuan diri, hidup di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada keluarga. Hidup adalah gerak, dan siapa pun yang berhenti akan terlindas oleh roda kehidupan itu sendiri”.
“Singkat cerita, akhirnya saya hanyut dan bergabung mengikuti ritme serta dinamika ibu kota yang demikian dinamis, penuh peluang dan tantangan sehingga sejak masuk Jakarta pada tahun 1974 sampai 2005 (tulisan ini dbuat Mas Koma tahun 2005—pen.) saya tetap menjadi penduduk Ciputat, sekalipun sedikitnya 30 negara pernah saya kunjungi. Saya selalu ingat nasihat klasik, kalau kamu mau pergi rekreasi janganlah hanya membayangkan enaknya saja, tetapi bayangkan dan nikmati kalau di tengah jalan ada jalan licin, hujan lebat, serta terik matahari karena semua itu satu paket perjalanan dalam kehidupan”.
“Demikianlah, maka acara jalan-jalan ke luar negeri dan menapaki tangga-tangga pendidikan semua itu saya hayati sebagai sebuah gerak alami belaka, yang tidak perlu dikeluhkesahkan dan tidak pula dibanggakan. Hidup adalah sebuah rekreasi yang perlu dinikmati, disyukuri, dan diisi dengan tindakan produktif. Sekali lagi, keasyikan untuk menghayati dorongan dan makna sebuah pengembaraan hidup saya dapatkan ketika menulis, menghapal, dan menulis refleksi mahfuzhat di atas yang kemudian tertanam dalam hati sampai sekarang”.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang khas. Tidak ada orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama persis, meski orang kembar sekali pun. Sebab pengalaman tidak hanya berkaitan dengan persentuhan seseorang dengan obyek-obyek fisik semata, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana obyek fisik tersebut dilihat, dipandang, dipahami, dan dikonstruksi dalam pemikiran dan kesadarannya. Pengalaman melihat obyek fisik yang sama antara dua orang misalnya, akan melahirkan hasil yang berbeda.

Hal ini dapat kita gunakan untuk memahami dan memaknai pengalaman hidup Mas Komar di atas. Dalam tradisi pesantren, mahfuzhat adalah bagian yang sangat erat dalam keseharian para santri. Ada begitu banyak mahfuzhat yang diajarkan oleh para guru di pesantren. Tetapi berapa di antara para santri yang kemudian terpengaruh, tergerak, menghayati, dan kemudian terdorong untuk mengikuti ajakan positif dari khazanah mahfuzhat yang mereka peroleh? Mungkin tidak banyak. Sebab jika saja sebagian besar kalangan santri menjadikan mahfuzhat sebagai energi gerak, sebagaimana yang dilakukan oleh Mas Komar, tentu akan terjadi perubahan yang sedemikian dahsyat dalam kehidupan secara luas karena kemampuan para santri untuk mentransformasikannya dalam energi gerak mereka.
Sebagaimana yang umum kita amati, banyak orang yang tidak beranjak dari realitas hidupnya sehari-hari. Kemajuan hidup akan terjadi ketika seseorang memiliki kemauan yang kuat untuk memperbaiki dirinya secara terus menerus. Ada banyak faktor yang menjadi pendoongnya. Salah satunya adalah mahfuzhat.
Ya, teks tertulis memang memiliki posisi yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Walaupun sama-sama belajar di Pesantren Pabelan, sama-sama belajar dan menghafal mahfuzhat, tetapi yang sukses seperti Mas Komar mungkin hanya sebagian kecilnya saja. Sementara sebagian besar yang lainnya tidak tergerak untuk menempuh jalan kehidupan yang membawa perubahan secara signifikan dalam kehidupannya.
Mengapa Mas Komar bisa sukses? Tentu ada banyak faktor. Tetapi faktor mahfuzhat tampaknya menjadi sebuah bukti yang tidak terelakkan. Teks-teks berbahasa Arab yang berisi nasehat, motivasi, dan dorongan kebajikan tersebut nampaknya begitu tertanam kuat dalam kalbunya. Dan sebagaimana yang terjadi pada sebagian besar mereka yang mampu berubah hidupnya karena pengaruh kata-kata, segala teks yang dibaca, dan juga dihafalnya, menghunjam secara mendalam. Tidak hanya menjadi bagian dari pelajaran yang kemudian dilupakan, tetapi justru menjadi bagian tidak terpisah. Ia senantiasa hadir, menjadi penuntun hidup, dan terus memberinya semangat yang kuat untuk meniti hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar