2 (Dua)
BELAJAR PEDULI SOSIAL PADA LEE ATWATER
Kehidupan masyarakat sekarang ini
bergeser menjadi lebih individualis. Kebersamaan dan saling menolong dengan
penuh ketulusan yang dulu menjadi ciri khas masyarakat kita semakin menghilang.
Konsentrasi kehidupan masyarakat sekarang ini lebih didominasi pada bagaimana mencapai mimpi-mimpi
materialis.
Pergeseran kehidupan ini disebabkan
oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor perubahan sosial yang
berlangsung secara masif. Arus modernitas yang menjadi pendorong utamanya. Implikasi nyata dari arus modernitas adalah kehidupan
yang kian mekanis. Interaksi antara satu orang dengan orang lainnya lebih
didasari oleh kepentingan, bukan ketulusan. Orang bergaul karena memiliki
kesamaan kepentingan karier, politik, bisnis, ekonomi, dan kepentingan yang
bersifat tentatif lainnya. Sementara relasi yang berbasis ketulusan sebagaimana
kehidupan di pedesaan semakin tidak mendapatkan tempat.
Implikasi lebih jauh dari kondisi ini
adalah adanya aspek yang semakin hilang dari kehidupan manusia. Secara substansial,
manusia membutuhkan kehadiran orang lain. Pada kondisi tertentu, kebutuhan ini
semakin terasa. Hilangnya kehangatan dalam kebersamaan akan membuat manusia
merasakan keterasingan.
Manusia yang teralienasi tidak akan
dapat menemukan makna hidup. Manusia semacam ini, menurut Hanna Djumhana
Bastaman (2001: 197), akan mengalami semacam frustasi yang
disebut frustasi eksistensial. Keluhan
utama yang dirasakan adalah kehidupan yang hampa dan tak bermakna (meaningless) yang merupakan gerbang
utama ke arah penderitaan.
Dalam pandangan Logoterapi, lanjut
Bastaman, hidup tak bermakna bukanlah suatu penyakit, melainkan semacam kondisi
kehidupan manusia yang dapat menjelmakan gangguan neurosis, sikap totaliter,
dan gaya hidup konformistis. Seorang
konformis ditandai oleh perbuatan-perbuatannya yang semata-mata karena orang
lain melakukannya. Ia mudah sekali terbawa arus situasi dan ”pantang
ketinggalan mode”. Sebaliknya, pribadi totaliter senantiasa berbuat sesuatu
karena orang-orang lain mengharapkannya berbuat seperti itu dan mereka bersedia
menaatinya. Adapun gangguan neurosis yang bersumber dari kondisi hidup tak
bermakna disebut Neurosis noogenik
(Noogenic neurosis). Secara khas gejala-gejalanya adalah serba bosan,
hampa, putus asa, kehilangan minat dan inisiatif, kehilangan arti dan tujuan
hidup, gairah kerja menurun. Keluhan ini mereka alami sekalipun taraf
sosial-ekonomi dan edukasi mereka serba baik, dan tak ada peristiwa traumatis
sebagai pencetusnya. Tak jarang pula penderita neurosis noogenik menggugat
kelahiran mereka ke dunia ini.
Mengejar cita-cita, bekerja keras, dan
bermimpi besar merupakan sebuah keharusan demi mewujudkan kesuksesan hidup. Sukses hidup tidak ada yang
datang dengan tiba-tiba, pasif, dan pasrah. Kesuksesan merupakan konsekuensi
dari usaha keras.
Namun demikian, banyak orang yang
mencurahkan sebagian besar energinya untuk mewujudkan sukses hidup dengan
mengabaikan terhadap aspek lainnya. Padahal, kesuksesan yang diraih belum tentu
mampu membuatnya bahagia dalam makna yang sesungguhnya. Sangat mungkin begitu
kesuksesan diraih, justru kesuksesan itu tidak ada nikmatnya.
Ada cukup banyak kasus yang menguatkan
hal ini. Kita bisa belajar—salah satunya—dari pengalaman Lee
Atwater, pemimpin Partai Republik di Amerika Serikat semasa pemerintahan George Bush. Atwater pernah
bercita-cita untuk meraih dua ambisinya yang hebat sebelum berumur 40 tahun,
yakni menjadi manajer kampanye presiden yang menang dan menjadi pemimpin Partai
Republik. Tahun 1988 ketika George Bush menjadi presiden, dia berhasil
mewujudkan ambisinya yang pertama. Usianya kala itu masih sangat muda, yaitu 37
tahun. Tidak lama kemudian dia mencapai ambisinya yang kedua, yaitu menjadi
pemimpin Partai Republik, sebuah jabatan yang amat bergengsi di Amerika Serikat.
Namun sayang, tidak lama dia menikmati
kejayaannya. Pada tanggal 5 Maret 1990 tanda-tanda pertama penyakitnya mulai
muncul. Ia terserang tumor otak. Sejak saat itu cerita Atwater bukanlah cerita
sukses dalam ”safari politik” tetapi ”cerita perjalan” sang Pemimpin dari satu
rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Walaupun dokter-dokter dan peralatan
medis yang paling baik dan canggih mencoba mengobati penyakitnya, penyakitnya
tak mau enyah.
Sebelum sakit, Atwater adalah politisi
hebat yang bisa melihat setiap kesempatan untuk maju dan bisa meraihnya dengan
menyisihkan lawan-lawan politiknya. Hidupnya penuh kewaspadaan dan sebagian
besar waktunya diabdikan buat karirnya. Keluarga dan sobat-sobatnya menjadi
orang asing baginya.
Sekarang, pada saat dirinya lemah tak
berdaya untuk melakukan tugasnya, bahkan untuk hidup normal pun tak bisa, dia
mulai berpaling kepada keluarga dan sobat-sobatnya. Juga kepada Tuhan.
Pada saat berkampanye untuk Bush, dia
sering mengatakan bahwa kalau Bush bersikap lunak-lembut dalam
pidato-pidatonya, dia tak akan menang. Kini, saat sakit tak berdaya, Atwater
sadar betapa salah sarannya kepada Bush dulu. Dia kini sadar betapa pentingnya
sikap lembut kepada sesama. Dia bahkan mengatakan, ”Dalam hidup ini tak ada
sesuatu yang lebih penting daripada manusiaw. Tak ada yang lebih manis daripada
sentuhan manusiawi.”
Apa yang dilakukan Atwater bukanlah
”hiasan bibir” semata sebab dia pernah mengalami hidup ”di ranjang mawar”, mempunyai
posisi puncak, kekayaan, ketenaran. Akan tetapi, ini semua dibayarnya dengan
mahal. Keluarga dan sobat-sobatnya menjadi tersisih. Dia menyadari
kekeliruannya dan mengatakan bahwa manusia adalah yang terpenting dalam hidup
ini pada saat segalanya telah terlambat: ketika dia sedang menunggu malaikat
yang hendak menjemputnya. Lee Atwater meninggal tanggal 29 Maret 1991
(Wishnubroto Widarso, 1997: 11-12).
Kisah hidup Lee Atwater memberikan
pelajaran yang sangat berarti kepada kita. Keberadaan orang lain memiliki
peranan penting terhadap kehidupan kita. Orang lain yang memiliki ketulusan
melengkapi keberadaan kita sebagai makhluk sosial. Pengakuan, apresiasi,
penghormatan, dan penghargaan terhadap eksistensi kita membuat posisi sebagai
manusia terasa lebih lengkap.
Manusia sejak semula ada dalam suatu
kebersamaan. Ia senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah
keluarga, persahabatan, lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan
bentuk-bentuk relasi sosial lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaan sudah
pasti ia mendapat pengaruh dari lingkungannya. Tetapi sebaliknya ia pun dapat
mempengaruhi dan memberi corak kepada lingkungan sekitarnya.
Berhubungan dengan sesama manusia
senantiasa penuh dinamika. Tidak selalu semuanya berjalan baik dan harmonis.
Tidak jarang terjadi perbedaan. Munculnya konflik dan kekerasan yang belakangan
banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bagaimana perbedaan
tidak dijadikan sebagai potensi untuk membangun kekayaan khazanah hidup. Padahal,
perbedaan merupakan bagian dari hukum Tuhan yang tidak mungkin untuk dihindari.
Oleh karena itu, perbedaan harus dijadikan sebagai sarana untuk memperkaya
kehidupan.
Berkaitan dengan hal ini, penting
merenungkan pendapat filsuf Deepak Chopra. Beliau menyatakan, ”Kalau kamu
melayani sesama, kamu mendapatkan balasan yang lebih banyak. Kalau kamu
memberikan hal yang baik, maka hal yang baik akan mengalir kepadamu
”.
Peduli sesama harus dilakukan tanpa
pamrih. Tanpa pamrih berarti tidak mengharapkan balasan atas pemberian atau
bentuk apapun yang kita lakukan kepada orang lain. Jadi, saat melakukan
aktivitas sebagai bentuk kepedulian, tidak ada keengganan atau ucapan
menggerutu. Semuanya dilakukan dengan cuma-cuma, tanpa pamrih, hati terbuka,
dan tanpa menghitung-hitung. Kepedulian sejati itu tidak bersyarat.
1 (Satu)
Dalam
buku karyanya yang berjudul Nuansa Fiqih
Sosial, K.H. M.A. Sahal Mahfudh (2012: 117) menyatakan bahwa kualitas
keberagamaan masyarakat Indonesia cenderung melemah akibat perubahan nilai yang
berkembang. Nilai-nilai spiritual Islam tidak lagi menjadi rujukan
baku. Solidaritas Islam sebagai nilai berhadapan dengan sikap masyarakat yang
cenderung semakin individualistik.
Pendapat Ketua Umum MUI Pusat dan Rais Syuriah PBNU tersebut memang benar
adanya. Memang ada kecenderungan umum menurunnya pengamalan dan penghayatan
agama masyarakat. Masyarakat sekarang ini cenderung semakin sekular dan
individualistik.
Namun demikian, bukan berarti di masyarakat sudah sekular seluruhnya dan
agama kehilangan perannya yang vital. Berbagai perilaku kebaikan dan
aktualisasi ajaran agama masih banyak kita temui di masyarakat. Nilai-nilai kebaikan
tersebut bisa saja dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat, baik dalam
bentuk bantuan tenaga, harta, maupun bentuk bantuan lainnya. Apa yang mereka
lakukan, sedikit atau banyak, memberikan pengaruh kepada masyarakat yang ada di
sekitarnya.
Kebaikan dalam bentuk bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan lebih
dikenal dengan istilah filantropi. Filantropi sendiri ditinjau dari sisi bahasa
berasal dari bahasa Yunani philein yang
berarti ”cinta” dan anthropos yang
berarti ”manusia”. Secara pengertian, filantropi merupakan tindakan seseorang
yang mencintai sesama sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk
menolong orang lain. Istilah filantropi pada umumnya diberikan kepada
orang-orang yang memberikan dana atau barang-barang yang dimilikinya untuk
amal.
Pelaku filantropi umumnya orang-orang yang memiliki ”kelebihan”, khususnya
harta. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bantuan diberikan oleh mereka
yang secara harta sesungguhnya tidak berlebihan, bahkan kurang. Kesadaran
keagamaan dan spirit berbagi menjadi daya dorong bagi dilakukannya perilaku
filantropi.
Jika orang kaya mendistribusikan hartanya untuk kebaikan, mungkin itu bukan
sebuah fenomena luar biasa. Memang, tindakan semacam itu merupakan tindakan
terpuji yang harus terus-menerus didorong kepada banyak orang kaya agar
kesenjangan sosial semakin berkurang. Akan tetapi jika yang melakukannya adalah
orang yang secara ekonomi kurang beruntung, tentu merupakan sebuah fenomena
yang menarik.
Dalam konteks ini, menarik menyimak kisah sepasang pemulung yang belakangan
mendapatkan perhatian luas di masyarakat. Pemulung tersebut bernama Yati dan
suaminya, Maman. Pasangan yang tinggal di Jakarta ini bersusah payah menabung
selama beberapa tahun agar bisa berkorban.
Saat awal mengutarakan niatnya untuk berkorban, banyak orang yang apatis,
ketawa, bahkan mengejek. Namun Yati dan suaminya tidak putus asa. Sedikit demi
sedikit mereka menabung untuk mewujudkan impiannya. Karena penghasilannya yang
kecil, tentu dibutuhkan waktu yang panjang agar terkumpul untuk membeli hewan
kurban. Yati dan suaminya menabung selama tiga tahun.
Tahun ini, tabungan keduanya mencukupi untuk membeli dua ekor kambing.
Keduanya menyerahkan kambing kurban ke panitia di Masjid Al-Ittihad, Tebet,
Jakarta Selatan. Banyak jamaah masjid mewah tersebut meneteskan air mata haru
menyaksikan pasangan pemulung tersebut saat menyerahkan kambing kurban.
Perjuangan pasangan pemulung tersebut merupakan fenomena yang mengharukan. Mereka
berdua adalah teladan di tengah kegersangan spiritual, semakin menguatnya
individualitas, dan melemahnya solidaritas sosial.
Bagi masyarakat luas yang memiliki penghasilan dan kehidupan lebih baik,
apa yang dilakukan oleh Yati dan suaminya merupakan sebuah ’tamparan’. Jika
orang yang penghidupannya susah saja mampu berusaha keras untuk menabung
sehingga mampu berkorban, seharusnya masyarakat yang kehidupannya lebih baik
melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik dari apa yang dilakukan Yati dan
suaminya.
Apa yang dilakukan oleh Yati dapat juga menjadi simbol perlawanan di tengah
arus pragmatisme masyarakat. Pembagian hewan korban dalam beberapa tahun
belakangan banyak berhadapan dengan persoalan rumit, terutama saat distribusi.
Di beberapa tempat, banyak orang yang berdesakan dan berebutan agar mendapatkan
daging korban.
Pelajaran penting yang seharusnya kita petik adalah bahwa berkorban itu
tidak hanya dapat dilakukan oleh mereka yang cukup secara materi, tetapi juga
oleh mereka yang secara ekonomi kurang beruntung. Kemauan berkorban, dan juga
bersedakah, sebaiknya memang dilakukan sejak dini. Latihan dan kemauan untuk
berbagi tidak bisa tumbuh begitu saja. Orang yang tidak pernah berbagi akan
berat untuk melakukannya.
Sebagai penutup artikel ini, menarik untuk menyimak kisah yang ditulis oleh
Jusuf Sutanto (2006: 121-122). Alkisah, ada
seorang kaya yang amat kikir, tidak pernah mau mendermakan hartanya, dan maunya
hanya selalu menerima saja. Ketika ia berjalan di pinggir sebuah hutan,
tiba-tiba terperosok ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam. Setiap kali ia
berusaha naik, selalu jatuh kembali, kecuali ada orang yang menariknya dari
atas... sampai akhirnya, satu-satunya jalan adalah berteriak-teriak minta
tolong supaya terdengar orang. Beberapa lama kemudian, lewatlah seorang tua yang
mendengar teriakan itu dan mendekat. ”Ulurkan tanganmu, saya akan mengangkatmu
keluar!” Anehnya, orang yang tercebur itu tidak juga mau memberikan tangannya.
Ia malah diam saja dengan dahi mengkerut seolah sedang memikirkan sesuatu.
Setelah berkali-kali diminta tapi tidak juga diulurkan tangannya, akhirnya
orang tua itu yang mengulurkan tangannya sambil berkata: ”Ini tanganku,
peganglah, nanti kamu saya tarik ke atas!” Orang itu segera memegang erat-erat
tangan si penolong itu hingga bisa ditarik keluar dari lubang. Orang kikir itu
selama hidupnya tidak pernah membantu dan menolong orang lain, sehingga ketika
diminta mengulurkan tangan supaya bisa dibantu oleh orang lain, ia ragu-ragu
melakukan sesuatu yang sama sekali belum pernah dilakukannya. Hanya karena si
penolong adalah seorang sufi yang sudah mengalami asam garam kehidupan, ia bisa
memahami apa yang tersurat di dalam benak orang kikir itu, sehingga hanya
dengan mengubah positioning dari
meminta menjadi memberikan tangannya, maka masalahnya bisa dipecahkan.
Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita bahwa
mengulurkan tangan tidak hanya berkaitan dengan kesadaran dan kemauan, tetapi
juga mentalitas. Mentalitas memberi memang seharusnya ditumbuhkembangkan
sehingga menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan.