29 Maret 2013

MENULIS ITU PERJUANGAN (Bagian Pertama)

“Pak, ada paket kagem Panjenengan. Sepertinya buku”, kata petugas resepsionis kampus tempatku bekerja. Dia hafal betul dengan paket kiriman yang kerap aku terima, yaitu buku. Aku bergegas menuju ruang resepsionis untuk mengambil paket tersebut. Dan seperti aku duga, paket buku.

KOMARUDDIN HIDAYAT DAN MAHFUZHAT

Dunia pesantren adalah dunia yang unik. Disebut unik karena dari tempat belajar yang sederhana jika ditinjau dari perspektif pendidikan modern, ternyata mampu menghasilkan lulusan dengan kualitas handal. Jika Anda belum pernah belajar di pesantren dan ingin mengetahui kondisi pesantren, mungkin bayangan Anda akan berbeda dengan kenyataannya. Sebab, sebagian besar pesantren penuh dengan kesederhanaan. Kamar para santri, sarana belajar, hingga menu makan sehari-hari jauh dari mewah. Tetapi dari lembaga yang sering dinilai secara kurang apresiatif ini, ternyata lahir banyak intelektual dan tokoh-tokoh terkemuka di negeri ini.

BELAJAR PEDULI SOSIAL PADA LEE ATWATER

Kehidupan masyarakat sekarang ini bergeser menjadi lebih individualis. Kebersamaan dan saling menolong dengan penuh ketulusan yang dulu menjadi ciri khas masyarakat kita semakin menghilang. Konsentrasi kehidupan masyarakat sekarang ini lebih didominasi pada bagaimana mencapai mimpi-mimpi materialis.

FILANTROPI PEMULUNG

Dalam buku karyanya yang berjudul Nuansa Fiqih Sosial, K.H. M.A. Sahal Mahfudh (2012: 117) menyatakan bahwa kualitas keberagamaan masyarakat Indonesia cenderung melemah akibat perubahan nilai yang berkembang. Nilai-nilai spiritual Islam tidak lagi menjadi rujukan baku. Solidaritas Islam sebagai nilai berhadapan dengan sikap masyarakat yang cenderung semakin individualistik.

FILSAFAT “NDELOK-NDELOK”

       Mantan Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid, pernah membuat pernyataan menarik mengenai kiai dan intelektual. Menurut Gus Dur—sapaan akrab K.H. Abdurrahman Wahid—perbedaan antara keduanya terletak pada orientasinya. Kiai itu berusaha menerjemahkan teori, konsep, dan persoalan yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat. Sementara intelektual membungkus realitas sederhana dalam bungkus teori.